CoRaT-CoRet Nna Sie Dewi
CoRaT-CoRet Nna Sie Dewi

konsep stress dan adaptasi

Stres dan Adaptasi

Pendahuluan 
Meningkatnya tuntutan dan kebutuhan hidup akan sesuatu yang lebih baik, menyebabkan individu berlomba untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkannya. Tapi pada kenyataannya sesuatu yang diinginkan tersebut kadangkala tidak dapat tercapai sehingga dapat menyebabkan individu tersebut bingung, melamun hingga stres. 
Stres yang terjadi pada setiap individu berbeda-beda tergantung pada masalah yang dihadapi dan kemampuan menyelesaikan masalah tersebut atau biasa disebut dengan koping yang digunakan. Jika masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik maka individu tersebut akan senang, sedangkan jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik dapat menyebabkan individu tersebut marah-marah, frustasi hingga depresi. 
Berikut akan dijelaskan tentang stres, koping dan adaptasi yang biasa terjadi pada setiap individu, salah satu contoh individu yang akan menghadapi ujian masuk kerja. 


Stress 

Stress adalah realitas kehidupan setiap hari yang tidak dapat dihindari. Stres disebabkan oleh perubahan yang memerlukan penyesuaian (Keliat, B.A., 1999). 
Salah satu contoh stress adalah menghadapi ujian masuk kerja. Ujian masuk kerja bisa diasumsikan oleh individu sebagai hal yang positif, jika dirasakan oleh individu sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan individu tersebut siap. Sedangkan dianggap negatif, jika dirasakan oleh individu sebagai suatu ancaman dan individu tersebut tidak siap. 
Berdasarkan hal tersebut, maka setiap individu akan mengalami stress karena adanya stimulus (stressor), dimana stimulus tersebut dapat menimbulkan perubahan atau masalah (stress) yang memerlukan cara menyelesaikan atau menyesuaikan kondisi terhadap masalah tersebut (koping) sehingga individu dapat menjadi lebih baik atau menjadi adaptif

Pada individu, sumber stressor dapat berupa: 
  1. Lingkungan 
    1. Sikap lingkungan: berupa tuntutan, pandangan positif dan negatif terhadap keberhasilan diterima bekerja. 
    2. Tuntutan dan sikap keluarga, misalnya keharusan mendapatkan pekerjaan, keinginan akan pilihan orang tua untuk bekerja. 
    3. Perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi (IPTEK), makin cepatnya memperoleh informasi dan trend masa depan jika berhasil terhadap sesuatu yang diinginkan 
  2. Diri sendiri 
    1. Kebutuhan psikologis yaitu keinginan yang harus dicapai terhadap yang diinginkannya. 
    2. Proses internalisasi diri, yaitu penyerapan terhadap yang diinginkan secara terus menerus sesuai dengan perkembangannya 
  3. Pikiran 
    1. Berkaitan dengan penilaian individu terhadap lingkungan dan pengaruhnya pada diri serta persepsi terhadap lingkungan
    2. Berkaitan dengan cara penilaian diri tentang cara penyesuaian yang biasa dilakukan oleh individu yang bersangkutan. 
Pikiran individu yang negarif baik penilaian saat ini maupun masa yang akan datang memberi pengaruh yang lebih berat. Misalnya: 
·        Kecemasan menghadapi ujian masuk kerja 
·        Ketakutan tidak lulus ujian masuk kerja 
·        Ragu-ragu mengikuti masuk kerja 
Dampak stressor dipengaruhi oleh berbagai faktor (Kozier & Erb, 1983 dikutip Keliat B.A., 1999) yaitu: 
1.      Sifat stressor 
·        Pengetahuan individu tentang stressor tersebut dan pengaruhnya pada individu tersebut 
2.      Jumlah stressor 
·        Banyaknya stressor yang diterima individu dalam waktu bersamaan. Jika individu tidak siap akan menimbulkan perilaku yang tidak baik. Misalnya marah pada hal-hal yang kecil. 
3.      Lama stressor 
·        Seberapa sering individu menerima stressor yang sama. Makin sering individu mengalami hal yang sama maka akan timbul kelelahan dalam mengatasi masalah tersebut. 
4.      Pengalaman masa lalu 
·        Pengalaman individu yang lalu mempengaruhi individu menghadapi masalah 
5.      Tingkat perkembangan 
·        Tiap individu tingkat perkembangannya berbeda. 

Koping (Cara penyelesaian masalah) 
Koping adalah cara yang dilakukan individu, dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan keinginan yang akan dicapai, dan respons terhadap situasi yang menjadi ancaman bagi diri individu. 
Cara yang dapat dilakukan adalah: 
Individu 
a. Kenal diri sendiri 
Merupakan tahap awal yang harus dilakukan. Karena individu yang sudah kenal akan dirinya, akan siap untuk menghadapi stressor yang ada. Cara yang dapat dilakukan adalah: 
- Identifikasi siapa diri anda 
- Tanyakan pada orang lain siapa anda 
- Mintalah umpan balik jika anda sudah kena diri anda 
b. Turunkan kecemasan 
- Identifikasi penyebab cemas anda 
- Cari tindakan yang menurut anda dapat menurunkan kecemasan 
- Lakukan teknik relaksasi 
c. Tingkatkan harga diri 
- Identifikasi aspek positif yang anda miliki 
- Mulai gali kemampuan positif yang anda miliki 
- Pertahankan aspek positif yang anda miliki 
d. Persiapan diri 
- Tingkatkan kemampuan kognitif atau pengetahuan anda (belajar) 
- Berdoa 
- Mencari informasi 
- Diskusi dengan orang yang sudah punya pengalaman bekerja 
- Identifikasi kebutuhan yang perlu dipersiapkan 
e. Pertahankan dan tingkatkan cara yang sudah baik 

2. Dukungan sosial (keluarga, teman dan masyarakat) 
a. Pemberian dukungan terhadap peningkatan kemampuan kognitif 
b. Ciptakan lingkungan keluarga yang sehat, misalnya waktu berdikusi 
c. dengan anggota keluarganya 
d. Berikan bimbingan mental dan spiritual untuk individu tersebut dari keluarga 
e. Berikan bimbingan khusus untuk individu, misalnya konseling 


Adaptasi 

Adaptasi merupakan hasil akhir dari upaya koping. Karakteristik respon beradaptasi 
adalah: 
- Dapat mempertahankan keseimbangan 
- Adaptasi memerlukan waktu 
- Kemampuan adaptasi berbeda untuk tiap individu 
- Adaptasi melelahkan dan untuk itu perlu bantuan dari orang lain 


Penutup 

Individu yang sukses adalah individu yang sehat mental dapat masalah yang dihadapinya. Salah satu contoh adalah individu yang sudah mempunyai persiapan mental dalam menghadapi ujian masuk kerja 

Persiapan mental yang dapat dilakukan adalah meliputi kenal akan diri sendiri, turunkan kecemasan individu, tingkatkan harga diri, persiapan diri dan tingkatkan dukungan sosial. 
Respons dari adaptasi yang dilakukan adalah: perlunya keseimbangan, perlu waktu, 
adaptasi berbeda untuk tiap orang, dan adaptasi melelahkan.


KONSEP STRESS DAN ADAPTASI 

A. STRESS DAN STRESSOR 
1.      ENGERTIAN STRESS DAN STRESSOR 
STRESS adalah segala situasi dimana tuntutan non specific mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Selye, 1976). 
Lazarus dan Folkman (1994) mendefinsikan stress psikologis sebagai hubungan khusus antara seseorang dengan lingkungannya yang dihargai oleh orang lain tersebut sebagai pajak terhadap sumber dayanya dan membahayakan kemapanannya. 
Stres dianggap sebagai faktor predisposisi atau pencetus yang meningkatkan kepekaaan individu terhadap penyakit (Rahe, 1975). 
STRESSOR adalah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor menunjukkan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa kebutuhan fisiologis, psikologis, sosial, lingkungan , perkembangan dan kebutuhan cultural. 
2.      MACAM-MACAM STRESSOR 
Stressor internal :
­ berasal dari dalam diri seseorang (mis : demam, kondisi seperti kehamilan atau menopause, atau suatu keadaan emosi seperti rasa bersalah). 
Stressor
­ eksternal : berasal dari luar diri seseorang (mis : perubahan bermakna dalam suhu lingkungan, perubahan dalam peran keluarga atau sosial, tekanan dari pasangan). 
B. HOMEOSTASIS 
1. PENGERTIAN HOMEOSTASIS 
Homeostasis adalah keadaan yang relatif konstan di dalam lingkungan internal tubuh, dipertahankan secara alami oleh mekanisme adaptasi fisiologis.  Adaptasi fisiologis terhadap stress adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan keadaan relatif seimbang. Kemampuan adaptif ini adalah bentuk dinamik dari ekuiliblrium lingkungan internal tubuh. Lingkungan internal secara konstan berubah, dan mekanisme adaptif tubuh secara kontinyu berfungsi untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan ini dan untuk mempertahankan ekuilibrium atau homeostasis. 
Homeostasis dipertahankan oleh mekanisme fisiologis yang mengontrol fungsi tubuh dan memantau organ tubuh. Untuk sebagian besar mekanisme ini dikontrol oleh sistem saraf dan endokrin dan tidak mencakup perilaku sadar. Tubuh membuat penyesuaian dalam frekwensi jantung, frekwensi pernapasan, tekanan darah, suhu tubuh, keseimbangan cairan dan elektrolit, sekresi hormon dan tingkat kesadaran yang semuanya ditujukan untuk mempertahankan adaptasi. 
Dubos (1965) mengemukakan pandangan lebih lanjut ke sifat dinamis respons-respons tersebut. Dia mengatakan bahwa ada dua konsep yang saling mengisi : homestasis dan adaptasi. Homeostasis menekankan pada perlunya penyesuaian yang harus segera dilakukan tubuh untuk menjaga komposisi internal selalu dalam batas yang bisa diterima, sedangkan adaptasi lebih menekankan pada penyesuaian yang berkembang sesuai berjalannya waktu. Dubos juga menekankan bahwa ada batasan respon terhadap stimuli yang dapat diterima dan bahwa respon tersebut bisa berbeda pada setiap individu. Baik homestasis maupun adaptasi dangat diperlukan untuk dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah. 
  1. MEKANISME HOMEOSTASIS 
Ketika seseorang menyadari tentang kebutuhan fisiologis tidak terpenuhi seperti makanan atau kehangatan, tindakan yang akan dilakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut . Untuk sebagian besar bagaimanapun juga , adaptasi mencakup penyesuaian yang dibuat tubuh secara otomatis untuk mempertahankan ekuilibrium. Mekanisme homeostasis ini adalah pengaturan – mandiri, dengan kata lain, mekanisme ini adalah otomatis. Namun demikian, pada individu yang sakit atau mengalami cedera, mekanisme ini mungkin tidak mampu untuk mempertahankan atau menopang homeostasis. 
Mekanisme fisiologis adaptasi berfungsi melalui umpan balik negatif, yaitu duatu proses dimana mekanisme kontrol merasakan suatu keadaan abnormal, seperti penurunan suhu tubuh, dan membuat suatu respon adaptif, seperti mulai menggigil untuk membangkitkan panas tubuh. Ketiga dari mekanisme utama yang digunakan dalam mengadaptasi stressor dikomtrol oleh medulla oblongata, formasi reticular dan kelenjar hipofisis. 
Medula Oblongata
& Medula oblongata mengontrol fungsi vital yang diperlukan untuk bertahan hidup. Fungsi ini termasuk frekwensi jantung, tekanan darah dan pernapasan. Impuls yang menjalar ke dan dari medulla oblongata dapat meningkatkan atau menurunkan fungsi vital ini. Misalnya pengaturan denyut jantung adalah sebagai hasil dari ilmpuls sistem saraf simpatis dan parasimpatis yang menjalar dari medulla oblongata ke jantung. Frekwensi jantung meningkat dalam berespon terhadap denyut dari serabut saraf simpatis dan menurun akibat impuls dari serabut parasimpatis. 
Formasi& reticular 
Formasi reticular adalah kelompok kecil neuron dalam batang otak dan medulla spinalis. Kelompok ini juga mengontrol fungsi vital dan secara kontinu memantau status fisiologis tubuh melalui sambungan dengan traktus sensoris dan motoris. Misalnya , sel-sel tertentu dalam formasi reticular dapat menyebabkan orang yang sedang tidur terbangun atau meningkatkan tingkat kesadarannya ketika timbul kebutuhan. 
Kelenjar hipofisis& Kelenjar hipofisis adalah kelenjar kecil yang melekat pada hypothalamus, menyuplai hormon yang mengontrol fungsi vital tubuh. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap stress. Selain itu, kelenjar hipofisis mengatur sekresi dari hormon-hormon tiroid, gonad, dan paratiroid. Sekresi hormon, seperti mekanisme homeostasis lainnya, normalnya diatur oleh mekanisme umpan balik yang secara kontinu memantau kadar hormon dalam darah. Ketika kadar hormon menurun, kelenjar hipofisis menerima pesan untuk meningkatkan sekresi hormon. Ketika kadar hormon meningkat, kelenjar hipofisis menurunkan produksi hormon. 
C. MODEL-MODEL STRESS 
1. PSIKOSOMATIK STRESS 
Dalam menghadapi waktu konflik, seringkali terjadi gangguan pada fungsi badaniah. Gejala-gejala yang sebagian besar mengganggu fungsi faal yang berlebihan sebagai akibat dari manifestasi, gangguan jika ini dinamakan gangguan psikosomatik. Psikosomatik umumnya dapat membantu banyak dalam usaha mengerti hubungan antara kepribadian seseorang dengan penyakit atau gangguannya. 
Suatu konflik menimbulkan ketegangan pada manusia dan bila hal ini tidak terselesaikan dan disalurkan dengan baik maka timbullah reaksi-reaksi yang abnormal pada jiwa. Jika ketegangan tersebut mengganggu fungsi susunan saraf negatif, maka hal tersebut yang dinamakan gangguan psikosomatik. 
Adapun sebab-sebab timbulnya psikomotorik : 
Penyakit organic yang pernah diderita dapat menimbulkan
§predisposisi untuk tuimbulnya gangguan psikomotorik pada bagian tubuh yang pernah sakit. 
Merasakan penyakit orang lain yang secara tidak sadar§diidentifikasikan . 
Tradisi dan adapt istiadat dalam keluarga atau
§ lingkungan dapat mengarahkan emosi kepada fungsi tertentu. 
Suatu emosi yang§ menjelma menjadi suatu gangguan badaniah tertentu. 
Konflik dan gangguan jiwa yang menjelma menjadi suatu gangguan badaniah biasanya hanya pada suatu alat tumbuh saja. Untuk klasifikasi, maka jenis gangguan dibagi menurut organ yang paling terkena, sebagai berikut : 
Kulit­ 
Pada dasarnya gangguan stress atau emosi dapat menimbulkan gangguan pada kulit. Hal ini telah lama diketahui. Beberapa penyeliodikan juga telah dilakukan utnuk mengetahui sejauh mana reaksi kulit terhadap kesukaran penyesuaian diri terhadap stress. 
Otot dan­ tulang 
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemukan seseorang yang mengalami nyeri otot selain disebabkan faktor hawa dan pekerjaan juga disebabkan oleh faktor emosi. Karena tekanan psikologik maka tonus otot akan meninggi dan penderita mengeluh nyeri kepala dan nyeri punggung. Ketegangan otot ini dapat menyebabkan ketegangan sekitar sendi dan menimbulkan nyeri sendi. 
Saluran­ pernapasan 
Gangguan psikosomatik yang timbul dari saluran pernapasan seperti asma bronkiale dengan bermacam-macam keluhannya, kecemasan dapat menimbulkan serangan asma. 
Jantung dan pembuluh darah.­ 
Pada saat mengalami stress biasanya seseorang merasakan bahwa jantungnya berdebat-debar . Stress yang menimbulkan kecemasan mempercepat denyut jantung, meninggikan daya pompa jantung dan tekanan darah. Gangguan yang mungkin saja timbul seperti hipertensiosensial, sakit kepala vaskuler dan migraine. 
  1. ADAPTASI MODEL 
Setiap orang secara terus menerus akan menghadapi perubahan fisik, psikis, dan sosial baik dari dalam maupun dari lingkungan luar. Jika hal tersebut tidak dapat dihadapi dengan seimbang maka tingkat stress akan meningkat. 
Model adaptasi menunjukkan bahwa empat faktor menentukan apakah suatu situasi adalah menegangkan (Mechanic, 1962). Empat faktor yang mempengaruhi Kemampuan untuk menghadapi stress itu adalah : Biasanya tergantung pada pengalaman seseorang dengan stressor&serupa, sistem dukungan, dan persepsi keseluruhan trehadap stressor. 
& Berkenaan dengan prktik dan norma kelompok sebaya individu. 
Dampak dari
& lingkungan sosial dalam membantu seorang individu untuk beradaptasi terhadap stressor. 
Sumber yang dapat digunakan untuk mengatasi stressor.& 
a. ADAPTASI FISIOLOGIS/BIOLOGIS 
Pada dasarnya disetiap tubuh manusia telah terdapat mekanisme pertahanan yang bersifat alami dan bekerja secara teratur sehingga memungkinkan tubuh untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang berasal dari faktor internal. Mekanisme ini bekerja dengan sendirinya dan akan berubah menjadi suatu aksi tanpa didasari dan biasanya berfungsi dalam kondisi yang tidak normal. 
b.      ADAPTASI PSIKOLOGIS 
Seseorang yang menghadapi stress akan mengalami kondisi-kondisi yang tidak mengenakkan secara psikis seperti timbulnya rasa cemas, frustasi, terancam, tak tentram yang semuanya itu berdampak pada munculnya suatu kontak konflik dalam jiwa mereka. dan konflik tersebut diekspresikan dalam bentuk kemarahan atau ekspresi-ekspresi lain yang dapat membuat orang tersebut merasa sedikit nyaman atau terlepas dari stress yang dihadapinya. 
ADAPTASI SOSIAL BUDAYA© 
Setiap lingkungan sosial masyarakat mempunyai tatanan budaya masing-,masing. Antara lingkungan satu dan yang lainnya tentu memiliki budaya berbeda-beda. Perbedaan tersebut yang akhirnya menuntut setiap orang beradaptasi jika hal itu dapat dilakukan dengan baik maka akan tercipta keseimbangan. Namun jika hal tersebut tidak dapat dilakukan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin jika orang tersebut akan mengalami stress. 

ADAPTASI SPIRITUAL© 
Setiap agama dan kepercayaan mengandung ajaran yang hendaknya harus dijalankan oleh penganutnya. Ajaran-ajaran ini tentunya juga harus turut andil dalammengatur perilaku manusia ini. Oleh karena itu dalam rangka memenuhi ajaran-ajaran tersebut pasti terjadi perubahan dalam perilaku manusia. 
3. LINGKUNGAN SOSIAL MODEL 
Keadaan lingkungan dan masyarakat sangat mempengaruhi seseorang dalam beradaptasi. Keadaan lingkungan yang stabil dan seimbang akan memudahkan seseorang dalam beradaptasi. Sedangkan keadaan masyarakat dengan hubungan sosial yang baik juga akan memudahkan individu dalam melakukan adaptasi agar terhindar dari stress. 

4. PROSES MODEL 
Pada dasarnya proses model adalah berlangsungnya kejadian dan masalah yang terjadi pada seseorang sehingga mempengaruhi orang tersebut yang pada akhirnya mengalami stress dan proses menghadapi stress itu sendiri. 

D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESPON TERHADAP STRESSOR 
1. INTENSITAS 
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada dasarnya tubuh atau jiwa manusia mempunyai ketahanan atau kekuatan yang berasal dari dalam. Tingkat kekuatan ini dinilai sebagai kunci kepribadian dalam menghadapi stress. Kepribadian ini memungkinkan seseorang untuk menjadikan stressor sebagai suatu yang positif sehinggan memberikanm respon yang positif pula terhadap stressor tertentu. Suatu stressor yang bersifat negatif dan menjadikan stress bagi seseorang dapat merupakan sumber kekuatan bagi orang lain. 
Selain itu stressor juga dapat memberikan mekanisme untuk memperingatkan seseorang agar dapat menmgumpulkan seluruh kekuatan yang dimilikinya dalam rangka melawean stress itu sendiri. Tak selamanya stress merupakan hal yang negatif. Pada tingkatan tertentu stress dapat menjadi motivator bagi seseorang. Hal ini berhubungan dengan keinginan untuk mencap[ai suatu tujuan dan stress disini berguna untuk mencegah timbulnya rasa bosan. 
Stress juga berguna pada keadaan yang penting dimana seseorang memerlukan kekuatan emosional dan mobilisasi fisik sebagai kekuatan pertahanan individu. 
2. SIFAT 
Sifat dari stressor juga memperngaruhi respon. Ada beberapa stressor yang bersifat positif dan yang lainnya bersifat negatif. Stressor yang bersifat positif akan menimbulkan respon yang positif, sedangkan stressor yang bersifat negatif akan menyebabkan respon yang negatif pula baik secara fisikmaupun psikis. Secara negatif stress dapat menghasilkan perubahan yang pada akhirnya akan menimbulkan kesakitan. 

3. DURASI 
Lamanya atau jangka waktu berlangsungnya pemaparan stressor atau kejasian dari stressor sampai menjadikan seseorang mengalami stress. Frekwensi perubahan-perubahan dari suatu kejadian yang pada akhirnya mempengaruhi seseorang hingga merasakan stress. 

4. JUMLAH 
Mengandung pengertian stressor yang harus dihadapi dalam satu waktu. Banyaknya perubahan-perubahan dan kejadian yang dialami seseorang dalam suatu periode waktu tertentu lebih sering menyebabkan perkembangannya stress yang pada akhirnya dapat menyebabkan kesakitan. 

5. PENGALAMAN 
Bagaimana seseorang memberikan respon terhadap stressor juga dipengaruhi oleh pengalaman. Pengalaman ini bisa di dapat dari diri sendiri maupun dari pengalaman orang lain. Pengalaman yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang ditemui dalam kehidupan akan memberikan pelajaran dan kekuatan untuk menghadapi stressor dan menghadapi stress. 

6. TINGKAT PERKEMBANGAN 
Di dalam setiap perkembangan akan terjadi perubahan-perubahan pada setiap individu. Tingkat perkembangan ini juga berpengaruh terhadap bagaimana seseorang maupun stressor. Karena perkembangan cukup menentukan kematangan seseorang dalam menghadapi kematangan. 

E. KONSEP ADAPTASI 
1. PENGERTIAN ADAPTASI 
Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress. Karena banyak stressor tidak dapat dihindari, promosi kesehatan sering difokuskan pada adaptasi individu, keluarga atau komunitas terhadap stress. 
Ada banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis memungkinkan homeostasis fisiologis. Namun demikian mungkin terjadi proses yang serupa dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya. 
Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal. Adaptasi melibatkan refleks, mekanisme otomatis untuk perlindungan, mekanisme koping dan idealnya dapat mengarah pada penyesuaian atau penguasaan situasi (Selye, 1976, ; Monsen, Floyd dan Brookman, 1992). Stresor yang menstimulasi adaptasi mungkin berjangka pendek, seperti demam atau berjangka panjang seperti paralysis dari anggota gerak tubuh. Agar dapat berfungsi optimal, seseorang harus mampu berespons terhadap stressor dan beradaptasi terhadap tuntutan atau perubahan yang dibutuhkan. Adaptasi membutuhkan respons aktif dari seluruh individu. 

2. DIMENSI ADAPTASI 
Stres dapat mempengaruhi dimensi fisik, perkembangan, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Sumber adaptif terdapat dalam setiap dimensi ini. Oleh karenanya, ketika mengkaji adaptasi klienterhadap stress, perawat harus mempertimbangkan individu secara menyeluruh. 

a. ADAPTASI FISIOLOGIS 
Indikator fisiologis dari stress adalah objektif, lebih mudah diidentifikasi dan secara umum dapat diamati atau diukur. Namun demikian, indicator ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua klien yang mengalami stress, dan indicator tersebut bervariasi menurut individunya. Tanda vital biasanya meningkat dan klien mungkin tampak gelisah dan tidak mampu untuk beristirahat aberkonsentrasi. Indikator ini dapat timbul sepanjang tahap stress. 
Durasi dan intensitas dari gejala secara langsung berkaitan dengan durasi dan intensitas stressor yang diterima. Indikator fisiologis timbul dari berbagai sistem. Oleh karenanya pengkajian tentang stress mencakup pengumpulan data dari semua sistem. 
Hubungan antara stress psikologik dan penyakit sering disebut interaksi pikiran tubuh. Riset telah menunjukkan bahwa stress dapat mempengaruhi penyakit dan pola penyakit. Pada masa lampau,penyakit infeksi adalah penyebab kematian paling utama, tetapi sejak ditemukan antibiotic, kondisi kehidupan yang meningkat, pengetahuan tentang nutrisi yang meningkat, dan metode sanitasi yang lebih baik telah menurunkan angka kematian. Sekarang penyebab utama kematian adalah penyakit yang mencakup stressor gaya hidup. 
Indikator fisiologis stress 

Kenaikan tekanan
Ä darah 
Peningkatan ketegangan di leher, bahu, punggung.
Ä 
Peningkatan
Ä denyut nadi dan frekwensi pernapasan 
Telapak tangan berkeringat
Ä 
Tangan
Ä dan kaki dingin 
Postur tubuh yang tidak tegap
Ä 
Keletihan
Ä 
Sakit
Ä kepala 
Gangguan lambung
Ä 
Suara yang bernada tinggi
Ä 
Mual,muntah dan
Ä diare. 
Perubahan nafsu makan
Ä 
Perubahan berat badan
Ä 
Perubahan
Ä frekwensi berkemih 
Dilatasi pupil
Ä 
Gelisah, kesulitan untuk tidur atau
Ä sering terbangun saat tidur 
Temuan hasil laboratorium abnormal :
Ä Peningkatan kadar hormon adrenokortikotropik, kortisol dan katekolamin dan hiperglikemia. 


b. ADAPTASI PSIKOLOGIS 
Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional dalam berbagai cara. Karena kepribadian individual mencakup hubungan yang kompleks di antara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang berkepanjangan ditetapkan dengan memeriksa gaya hidup dan stresor klien yang terakhir, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping yang berhasil di masa lalu, fungsi peran, konsep diri dan ketabahan yang merupakan kombinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang di duga menjadi media terhadap stress. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan (Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993). 
Indikator emosional / psikologi dan perilaku stress : 

• Ansietas 
• Depresi 
• Kepenatan 
• Peningkatan penggunaan bahan kimia 
• Perubahan dalam kebiasaan makan, tidur, dan pola aktivitas. 
• Kelelahan mental 
• Perasaan tidak adekuat 
• Kehilangan harga diri 
• Peningkatan kepekaan 
• Kehilangan motivasi. 
• Ledakan emosional dan menangis. 
• Penurunan produktivitas dan kualitas kinerja pekerjaan. 
• Kecendrungan untuk membuat kesalahan (mis. buruknya penilaian). 
• Mudah lupa dan pikiran buntu 
• Kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci. 
• Preokupasi (mis. mimpi siang hari ) 
• Ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas. 
• Peningkatan ketidakhadiran dan penyakit 
• Letargi 
• Kehilangan minat 
• Rentan terhadap kecelakaan. 





c. ADAPTASI PERKEMBANGAN 
Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, seseorang biasanya menghadapi tugas perkembangan dan menunjukkan karakteristik perilaku dari tahap perkembangan tersebut. Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu atau menghambat kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam bentuk yang ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis pendewasaan. 
Bayi atau anak kecil umumnya menghadapi stressor di rumah . Jika diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, mereka mampu mengembangkan harga diri yang sehat dan pada akhirnya belajar respons koping adaptif yang sehat (Haber et al, 1992). 
Anak-anak usia sekolah biasanya mengembangkan rasa kecukupan. Mereka mulai mnyedari bahwa akumulasi pengetahuan dan penguasaan keterampilan dapat membantu mereka mencapai tujuan , dan harga diri berkembang melalui hubungan berteman dan saling berbagi di antara teman. Pada tahap ini, stress ditunjukkan oleh ketidakmampuann atau ketidakinginan untuk mengembangkan hubungan berteman. 
Remaja biasanya mengembangkan rasa identitas yang kuat tetapi pada waktu yang bersamaan perlu diterima oleh teman sebaya. Remaja dengan sistem pendukung sosial yang kuat menunjukkan suatu peningkatan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap stressor, tetapi remaja tanpa sistem pendukung sosial sering menunjukkan peningkatan masalah psikososial (Dubos, 1992). 
Dewasa muda berada dalam transisi dari pengalaman masa remaja ke tanggung jawab orang dewasa. Konflik dapat berkembang antara tanggung jawab pekerjaan dan keluarga. Stresor mencakup konflik antara harapan dan realitas. 
Usia setengah baya biasanya terlibat dalam membangun keluarga, menciptakan karier yang stabil dan kemungkinan merawat orang tua mereka. Mereka biasanya dapat mengontrol keinginan dan pada beberapa kasus menggantikan kebutuhan pasangan, anak-anak, atau orang tua dari kebutuhan mereka. Namun demikian dapat timbul stress, jika mereka merasa terlalu banyak tanggung jawab yang membebani mereka. 
Usia lansia biasanya menghadapi adaptasi terhadap perubahan dalam keluarga dan kemungkinan terhadap kematian dari pasangan atau teman hidup. Usia dewasa tua juga harus menyesuaikan terhadap perubahan penampilan fisik dan fungsi fisiologis. Perubahan besar dalam kehidupan seperti memasuki masa pension juga menegangkan. 

d. ADAPTASI SOSIAL BUDAYA 
Mengkaji stressor dan sumber koping dalam dimensi sosial mencakup penggalian bersama klien tentang besarnya, tipe, dan kualitas dari interaksi sosial yang ada. Stresor pada keluarga dapat menimbulkan efek disfungsi yang mempengaruhi klien atau keluarga secara keseluruhan (Reis & Heppner, 1993). 
Perawat juga harus waspada tentang perbedaan cultural dalam respon stress atau mekanisme koping. Misalnya klien dari suku Afrika-Amerika mungkin lebih menyukai mendapatkan dukungan sosial dari anggota keluarga ketimbang dari bantuan professional (Murata, 1994). 

e. ADAPTASI SPIRITUAL. 
Orang menggunakan sumber spiritual untuk mengadaptasi stress dalam banyak cara, tetapi stress dapat juga bermanifestasi dalam dimensi spiritual. Stress yang berat dapat mengakibatkan kemarahan pada Tuhan, atau individu mungkin memandang stressor sebagai hukuman. Stresor seperti penyakit akut atau kematian dari orang yang disayangi dapat mengganggu makna hidup seseorang dan dapat menyebabkan depresi. Ketika perawatan pada klien yang mengalami gangguan spiritual, perawat tidak boleh menilai kesesuaian perasaan atau praktik keagamaan klien tetapi harus memeriksa bagaimana keyakinan dan nilai telah berubah. 


F. RESPON PATOFISIOLOGI TERHADAP STRESS 
1. KOMPONEN FISIOLOGI 
Riset klasik yang telah dilakukan oleh Selye (1946, 1976) telah mengidentifikasi dua respons fisiologis terhadap stress; sindrom adaptasi lokal (LAS) dan sindrom adaptasi umum (GAS). LAS adalah respon dari jaringan, organ atau bagian tubuh terhadap stress karena trauma, penyakit atau perubahan fisiologis lainnya. GAS adalah respons pertahanan dari keseluruhan tubuh terhadap stress. 
a. LAS (Lokal Adaptation Syndrome) 
Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stress. Respons setempat ini termasuk pembekuan darah, penyembuhan luka, akomodasi mata terhadap cahaya dan respon tekanan. Semua bentuk LAS mempunyai karakteristik berikut : 
Respon yang terjadi
­ adalah setempat, respon ini tidak melibatkan seluruh sistem tubuh 
Respon
­ adalah adaptif, berarti bahwa stressor diperlukan untuk menstimulasinya. 
Respon adalah berjangka pendek. Respon tidak terdapat terus menerus.
Respon
­ adalah restorative, berarti bahwa LAS membantu dalam memulihkan homeostasis region atau bagian tubuh. 
Dua respon setempat , yaitu respons refleks nyeri dan respons inflamasi adalah contoh dari LAS. Perawat menghadapi respons ini dibanyak lingkungan perawatan kesehatan. 

Respon refleks nyeri 
Respon refleks nyeri adalah respon setempat dari sistem saraf pusat terhadap nyeri. Respon ini adalah respons adaptif dan melindungi jaringan dari kerusakan lebih lanjut. Respons ini melibatkan reseptor sensoris, saraf sensoris yang menjalar ke medulla spinalis, neuron penghubung dalam medulla spinalis, saraf motorik yang menjalar dari medulla spinalis dan otot efektif. Misalnya , sebut saja di bawah sadar, yaitu refleks menghindarkan tangan dari permukaan panas. Contoh lainnya adalah kram otot. 
Respons inflamasi 
Respons inflamasi distimuli oleh trauma atau infeksi. Respons ini memusatkan inflamasi , sehingga dengan demikian menghambat penyebaran inflamasi dan meningkatkan penyembuhan. Respons inflamasi dapat mengakibatkan nyeri setempat, pembengkakan, panas, kemerahan dan perubahan fungsi.Respons inflamasi terbagi dalam tiga fase yaitu perubahan dalam sel-sel dan sistem sirkulasi, pelepasan eksudat dari luka dan perbaikan jaringan oleh regenerasi atau pembentukan jaringan parut. 

b. GAS (General Adaptation Syndrome) 
GAS adalah respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stress. Respon ini melibatkan beberapa sistem tubuh, terutama sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Beberapa buku menyebutkan GAS sebagai respon neuro-endokrin. GAS terdiri atas reaksi peringatan , tahap resisten dan tahap kehabisan tenaga. 
GAS diuraikan dalam tiga tahapan berikut : 
Alarm
( reaction (AR, reaksi cemas). 
Selama tahap ini tubuh menyadari penyebab ketegangan dan secara sadar atau tidak sadar dipicu untuk bertindak. Kekuatan pertahanan tubuh dikerahkan dan tingkat yang normal dari perlawanan tubuh menurun. Kalau penyebab ketegangan itu cukup keras, tahap ini dapat mengakibatkan kematian. Contohnya adalah luka bakar yang hebat. 
Reaksi alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stressor. Kadar hormon meningkat untuk meningkatkan volume darah dan dengan demikian menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepaskan untuk meningkatkan kadar glukosa darah untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi. Meningkatkan kadar hormon lain seperti efinefrin dan norefinefrin mengakibatkan peningkatan frekwensi jantung, meningkatkan aliran darah ke otot, meningkatkan ambilan oksigen dan memperbesar kewaspadaan mental. 
Aktivitas hormonal yang luasini menyiapkan individu untuk melakukan respon melawan atau menghindar. Curah jantung, ambilan oksigen dan frekwensi pernapsan meningkat, pupil mata berdilatasi untuk menghasilkan bidang visual yang lebih besar, dan frekwensi jantung meningkat untuk menghasilkan energi lebih banyak. Dengan peningkatan kewaspadaan dan energi mental ini, seseorang disipkan untuk melawan atau menghindari stressor. 

State of Resistance (SR,
( Perlawanan) 
Tahap ini ditandai oleh penyesuaian dengan penyebab ketegangan. Tubuh melawan reaksi cemas, karena dalam keadaan ini tidak ada orang yang terus menerus dapat bertahan. Tingkat perlawanan tubuh naik di atas normal untuk melawan penyebab ketegangan dengan harapan adanya penyesuaian. Disamping itu perlawanan tubuh terhadap rangsangan selanjutnya meningkat. 
Jika stress dapat diatasi, tubuh akan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. namun demikian, jika stressor tetap terus menetap, seperti pada kehilangan darah terus menerus, penyakit yang melumpuhkan, penyakit mental parah jangka panjang, dan ketidakberhasilan dalam beradaptasi, maka individu memasuki tahap ketiga dari GAS yaitu tahap kehabisan tenaga. 

State of Exhausting (SE, tahap
( keadaan sangat lelah/ kehabisan tenaga) 
Kalau tubuh terus menerus dibiarkan menerima penyebab ketegangan, suatu waktu akan mencapai tahap lelah. Gejala-gejala reaksia cemas ini timbul kembali, tetapi kalau penyebab ketegangan tidak disingkirkan, tanda-tanda itu tidak dapat dirubah lagi. Maut akan menyusul, kecuali tubuh memperoleh tehnik untuk menyesuaikan diri atau menemukan jalan baru untuk menguasai situasi yang pebuh ketegangan. 

2. KOMPONEN PSIKOLOGI 
Pemajanan terhadap stressor mengakibatkan respoons adaptif psikologis dan fisiologis. Ketika seseorang terpajan pada stressor, maka kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan darah terganggu. Gangguan atau ancaman ini, baik yang aktual atau yang dicerap,menimbulkan frustasi, ansietas, dan ketegangan (Kline-Leidy, 1990). Perilaku adaptif psikologis individu membantu kemampuan seseorang untuk menghadapi stressor. Perilaku ini diarahkan pada penatalaksanaanstress dan didapatkan melalui pembelajaran dan pengalaman sejalan dengan individu mengidentifikasi perilaku yang dapat diterima dan ebrhasil. 
Perilaku adaptif psikologis dapat konstruktif atau destruktif. Perilaku konstruktif membantu individu menerima tantangan untuk menyelesaikan konflik. Bahkan ansietas dapat konstruktif ; misalnya , ansietas dapat menjadi tanda bahwa terdapat ancaman sehingga seseorang dapat melakukan tindakan untuk mengurangi keparahannya. 
Perilaku destruktif mempengaruhi orientasi realitas, kemampuan pemecahan masalah, keperibadian, dan situasi yang sangat berat, kemampuan untuk berfungsi. Ansietas dapat juga bersifat destruktif (mis. jika seseorang tidak mampu beritindak melepaskan diri dari stressor). Sama halnya, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan dapat dipandang sebagai perilaku adapatif ; dalam kenyataannya hal ini malah meningkatkan stress dan bukan menurunkan stress. 
Perilaku adapatif psikologis juga disebut sebagai mekanisme koping. Mekanisme ini dapat berorientasi pada tugas, yang mencakup penggunaan tehnik pemecahan masalah secara langsung untuk menghadapi ancaman, atau dapat juga mekanisme pertahanan ego, yang tujuannya adalah untuk mengatur distress emosional dan dengan demikian memberikan perlindungan individu terhadap ansietas dan stress. Mekanisme pertahanan ego adalah metode koping terhadap stress secara tidak langsung. 
a. TASK ORIENTED BEHAVIOR 
Perilaku berorientasi tugas mencakup penggunaan kemampuan kognitif untuk mengurangi stress, memecahkan masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi kebutuhan (Stuart & Sundeen, 1991). Perilaku berorientasi tugas memberdayakan seseorang untuk secara realistic menghadapi tuntutan stressor . Tiga tipe umum perilaku berorientasi pada tugas adalah : 
Perilaku menyerang adalah tindakan untuk
Ä menyingkirkan atau mengatasi suatu stressor atau untuk memuarkan kebutuhan. 
Ä Perilaku menarik diri adalah menarik diri secara fisik atau emosional dari stressor. 
Perilaku kompromi adalah mengubah metode yang biasa digunakan,
Ämengganti tujuan, atau menghilangkan kepuasan terhadap kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan lain atau untuk menghindari stress. 

b. EGO DEPENDEN MECANISM 
Mekanisme pertahanan ego yang pertama kali diuraikan oleh Sigmund Freud adalah perilaku tidak sadar yang memberikan perlindungan psikologis terhadap peristiwa yang menegangkan. Mekanisme ini digunakan oleh setiap orang dan membantu melindungi terhadap perasaan tidak berdaya dan ansietas. Kadang mekanisme pertahanan diri dapat menyimpang dan tidak lagi mampu untuk membantu seseorang dalam mengadaptasi stressor. Ada banyak mekanisme pertahanan ego. Mekanisme ini sering kali diaktifkan oleh stressor jangka pendek dan biasanya tidak mengakibatkan gangguan psikiatrik. 
Kompensasi adalah penutupan suatu
& defisiensi dalam satu aspek citra diri dengan secara takut menekankan suatu gambaran yang dianggap sebagai suatu aspek 
Konversi adalah secara tidak
& sadar menekan suatu konflik emosional yang menghasilkan ansietas dan memindahkannya menjadi gejala non organic. 
Menyangkal adalah penghindaran
& konflik emosional dengan menolak untuk secara sadar mengakui segala sesuatu yang mungkin menyebabkan nyeri emosional yang tidak dapat ditoleransi. 
& Pemindahan tempat adalah memindahkan emosi, ide, atau keinginan dari situasi menegangkan kepada penggantinya yang lebih sedikit mengakibatkan ansietas. 
& Identifikasi adalah pemolaan perilaku yang dilakukan oleh orang lain dan menerima kualitas, karakteristik dan tindakan orang tersebut. 
Regresi
& adalaj koping terhadap stressor melalui tindakan dan perilaku yang berkaitan dengan periode perkembangan sebelumnya. 
Rasionalisasi adalah
& penjelasan-penjelasan yang masuk akal diberikan untuk meyakinkan atau memotivasi perilaku yang bersumber pada alam tak sadar. 
Sublimasi adalah kekuatan yang
& cenderung dipindahkan dan diarahkan menjadi tujuan yang dapat diterima masyarakat. 
Identifikasi adalah tanggapan seseorang terhadap kualitas atau
& sifat-sifat keperibadian orang lain 
Supresi adalah pikiran-pikiran atau
& keinginan dihambat secara sadar. 
Represi adalah ide-ide yang menyakitkan di
& tekan kea lam tak sadar. 
Introjeksi adalah seseorang menerima sikap-sikap
& emosi, keinginan ide atau kepribadian orang lain ke dalam dirinya, aspirasi dan pengendalian diri orang lain diambil alih menjadi kepribadiannya. 
Reaksi
& formasi adalah seseorang mengadopsi sikap dan perilaku yang berlawanan dengan gerak hatinya. 
Proyeksi adalah hal-hal yang tidak bisa diterima secara
& emosional karena penolakan terhadap dirinya dan kemudian dipindahkan kepada orang lain. 
Fantasi / imajinasi adalah memakai imajinasi untuk menciptakan
&gambar yang hanya ada dalam ingatan. 

G. MANAJEMEN STRESS. 
Manajemen stress kemungkinan melihat promosi kesehatan sebagai aktivitas atau intervasi atau mengubah pertukaran rrespon terhadap penyakit. Fokusnya tergantung pada tujuan dari intervensi keperawatan berdasarkan keperluan pasien. Perawat bertanggung jawab pada implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan pada beberapa daerah perawatan. 

1. MANAJEMEN STRESS UNTUK KLIEN 
a. REGULER EXERCISE 
Program olahraga teratur meningkatkan tonus otot dan postur otot, mengontrol berat badan, mengurangi ketegangan dan meningkatkan relaksasi. Selain itu , olahraga juga mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan meningkatkan fungsi kardiovaskular. Klien yang mempunyai riwayat penyakit kronis, yang berisiko untuk mengalami suatu penyakit , atau yang berusia lebih dari 35 tahun harus mulai melakukan program latihan fisik hanya setelah mendiskusikannya dengan dokter. Secara umum agar program kebugaran aliran darah ke otot memberi efek fisik yang positif, seseorang harus melakukan olahraga setidakanya tiga kali dalam satu minggu selama 30 sampai 40 menit. 
Setiap orang harus melakukan latihan pernapasan sebelum melakukan latihan berat seperti jogging, gerakan aerobic atau tennis. Latihan pernapasan menstimulasi aliran darah ke otot dan meningkatkan kelenturan. Latihan ini mengurangi risiko kerusakan pada sistem musculoskeletal selama latihan. Sama halnya seseorang harus melakukan latihan pendinginan dan tidak berhenti secara mendadak. misalnya , setelah jogging atau gerakan aerobic, orang tersebut harus bergerak dengan gerakan sedang, secara bertahap diperlambat dan berhenti. Latihan pendinginan memungkinkan sistem kardiovaskuler, musculoskeletal, dan sistem metabolic secara bertahap kembali pada keadaan istirahat. 
Program latihan efektif dalam menurunkan keparahan kondisi akibat stress seperti hipertensi, kegemukan, sakit kepala migren, keletihan mental, peka rangsang dan sepresi. Latihan meningaktakan pelepasan opioid endogen yang menciptakan perasaan sejahtera (McCubbin & McCubbin, 1993). 

b. DIET DAN NUTRISI 
Nutrisi dan latihan berhubungan erat. Makanan memberi bahan bakar untuk aktivitas dan meningkatkan latihan, yang meningkatkan sirkulasi dan pemberian nutrient ke jaringan tubuh. 
Setiap orang didorong untuk mempertahankan berat badan sesuai dengan rentang standart usia, jenis kelamin, dan bentuk tubuh. Selain untuk menghindari kelebihan makan atau kekurangan makan, seseorang harus mewaspadai kualitas makanan. Terlalu banyak lemak, kafein, garam atau gula dapat mengganggu fungsi metabolic tubuh, defisiensi vitamin, mineral, dan nutrient juga dapat menyebabkan masalah metabolisme. Kebiasaan diet yang buruk dapat memperburuk respond stress dan membuat individu mudah tersinggung, hiperaktif dan gelisah. Hal ini merusak kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab personal, keluarga, dan peran. 

c. SUPPORT SISTEM 
Peribahasa “ no man is an island” terutama penting untuk penatalaksanaan stress. Sistem pendukung seperti keluarga , teman atau rekan kerja yang akan mendengarkan dan memberikan nasihat dan dukungan emosional akan sangat bermamfaat bagi seseorang yang mengalami stress. Sistem pendukung dapat mengurangi reaksi stress dan meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental (Revenson dan Majerovitz, 1991). Riset keperawatan telah mendokumentasikan adanya korelasi dukungan sosial positif dengan pengurangan gejala penyakit kronis (White, Richter, & Fry, 1992). 
Ubrich dan Bradsher (1993) menunjukkan bahwa dukungan dapat meringankan efek stressor atau distress emosional baik pada lansia wanita kulit putih maupun suku Afrika-Amerika terutama jika dukungan dipandang sebagai orang yang sangat dipercaya. Perawat dapat menggunakan berbagai metode untuk membantu klien membangun sistem pendukung, melibatkan diri dalam aktivitas kelompok tempat ibadah dan memberi dorongan untuk melakukan aktivitas rekreasi. Perawat dapat menggunakan komunikasi terapeutik untuk mengajarkan klien tentang keterampilan sosialisasi jika klien tidak mengetahui bagaimana cara berinteraksi dengan tepat. Semua metode ini membantu klien membangun sistem pendukung yang kuat. Jika stress merupakan akibat dari isolasi sosial, maka strategi keperawatan ditujukan untuk membantu klien mengembangkan jaringan sosial baru. 

d. TIME MANAGEMENT 
Seseorang yang menggunakan waktu secara efisien biasanya mengalami lebih sedikit stress karena mereka merasa lebih terkontrol dalam hidupnya. Perawat yang bertindak dalam domain pengajaran-pelatihan dapat membantu klien memprioritaskan tugas jika mereka merasa kewalahan atau imobilisasi. Penstrukturan waktu yang realistic diperlukan jika klien tidak menyisikan waktu yang cukup untuk setiap aktivitas. Fungsi peran klien harus dianalisis secara berkaitan untuk menentukan apakah modifikasi dapat dibuat sehingga dapat mengurangi tuntutan waktu (Peddicord,1991). 
Mengendalikan tuntutan dari orang lain penting untuk penatalaksanaan waktu yang efektif. Sedikit orang yang mampu mengikuti semua permintaan yang diajukan oleh orang lain. penting artinya untuk belajar mengenali permintamaan mana yang dapat dipenuhi secara realistic, kebutuhan mana yang akan dinegosiasi, dan kebutuhan mana yang dapat ditolak secara asertif. Menghambat periode waktu untuk menunjukkan tujuan spesifik juga mengurangi rasa keterburuan dan meningkatkan perasaan kontrol. 

e. HUMOR 
Humor adalah terapi yang terkenal dalam literatur umum oleh Norman Cousins (1979). Kemampuan untuk menerima hal-hal lucu dan tertawa melenyapkan stress (Robinson, 1990; Dahl dan O’Neal, 1993). Hipotesisfisiologis menyatakan bahwa tertawa melepaskan endorphin ke dalam sirkulasi dan perasaan stress di lenyapkan. 

f. ISTIRAHAT 
Pola istirahat dan tidur yang tetap, dan kebaisaan juga penting untuk menangani stress. Seseorang yang mengalami stress harus di dorong meluangkan waktunya untuk istirahat dan tidur. Tidur tidak hanya menyegarkan tubuh, Tetapi juga membantu seseorang menjadi rileks secara mental. Klien mungkin membutuhkan bantuan specific dalam mempelajari tehnik relaks sehingga dapat tertidur. 

g. TEHNIK RELAKSASI 
Relaksasi progresif dengan dan tanpa ketegangan otot dan tehnik manipulasi pikiran mengurangi komponen fisiologis dan emodional stress. Tehnik relaksasi adalah perilaku yang dipelajari dan membutuhkan waktu pelatihan dan praktek. Setelah klien menjadi terampil dalam tehnik ini , ketegangan dikurangi dan parameter fisiologis berubah. 
Ada 4 komponen utama dari tehnik relaksasi yaitu : 
Lingkungan
& yang tenang, menghindarkan sebanyak mungkin kebisingan dan gangguan –gangguan 
Posisi yang nyaman, duduk tanpa ketegangan otot.
& 
Sikap yang
& dapat diubah, mengosongkan semua pikiran-pikiran dari alam sadar. 
Keadaan
& mental (yang baik, memusatkan perhatian pada suara, kata-kata, ungkapan, imaginasi, objek atau pola napas untuk merubah pikiran-pikiran secara internal menjadi pikiran yang lebih dapat diterima). 
Faktor yang penting adalah bagaimana seseorang mengosongkan pikirannya dari semua pikiran-pikiran dan memusatkan perhatian pada mental device. Wajarlah bila pikiran-pikiran itu makin menerawang. Bila terjadi demikian, orang tersebut akan dengan segera langsung kembali kepada mental device. Setiap periode relaksasi ini harus membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Ada Beberapa pendekatan yang dapat dilaksanakan melalui instruksi perawat kepadda klien , tanpa menggunakan peralatan khusus dan juga tanpa perintah dokter yaitu relaksasi profresif dan relaksasi respon Benson. Relaksasi progresif terdiri atas peregangan dan relaksasi sekelompok otot dan memfokuskannya perasaan relakasasi. Aplikasi yang sistematis dari relaksasi progresif ini mempunyai tiga efek utama, sebagai berikut : 
Kelompok otot yang telah mengalami relaksasi maka akan lebih rileks lagi. 
Tiap-tiap kelompok otot utama rileks secara bergantian. Kalau otot yang baru ditambah, maka kelompok otot yang lama juga akan mengalami relaksasi. 
Lebih
­ banyak jumlah relaksasi yang dialmi seseorang, maka orang itu akan bergerak menuju fase relaksasi. 
Keadaan rileks meningkat setelah periode relaksasi. Respon relaksasi Benson menghilangkan ketegangan otot. Khususnya membantu secara penuh relaksasi otot pada pasien yang mengalami nyeri atau ketidaknyamanan. 
Respon relaksasi Benson’s 
o Yakinkan posisi duduk senyaman mungkin dalam lingkungan yang tenang 
o Tutup mata 
o Relaksasi otot-otot tubuh (katakana Ayo.....) 
o Memusatkan perhatian pada pernapasan, ulangi lagi kata-kata atau suara / bunyi seperti “one” atau “um-um” setiap kali ekspirasi. 
o Lakukan selama 20 menit 
o Buka mata 
o Berikan waktu pada pasien untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sebelum psien bergerak atau berpindah. 
Relaksasi Progresif 
1. Yakinkan posisi yang nyaman dalam ruangan yang tenang 
2. Mulai dengan memusatkan perhatian pada pernapasan yang lambat 
3. Regangkan kelompok otot-otot yang diinginkan (lihat langkah 5) selama 5-7 detik, kemudian relakasasi secara cepat. 
4. Pusatkan perhatian secara 10 detik pada sensasi-sensasi pada otot yang berelaksasi 
5. Ikuti petunjuk ini, ulangi untuk setiap kelompok otot, regangkan 2 atau 3 kali. 
• Tangan dan lengan : mengepalkan tangan, menarik siku dengan kuat, kerutkan hidung, purse lip, senyum dengan gigi terekat kuat. 
• Wajah : mengerutkan dahi, tutup mata dengan rapat, mengerutkan hidung, purse lip, senyum dengan gigi terekat kuat. 
• Leher : Dekatkan dagu dengan dada. 
• Dada : tarik kedua bahu secara bersama-sama, keraskan perut dan bokong. 
• Kaki dan tungkai : dorong ke bawah dengan kaki, jari-jari menjauhi (dorsofleksi) utamakan kaki yang terdahulu. 
6. Ulangi proses pada setiap area yang mengalami ketegangan. 

h. SPIRITUALITAS 
Aktivitas spiritual dapat juga mempunyai efek yang positif dalam menurunkan stress (Dahl dan O’ Neal , 1993). Praktik seperti berdoa, meditasi atau membaca bahan bacaan keagamaan dapat menjadi sumber yang bermamfaat bagi klien. Pada penelitian (Young, 1993) praktik spiritual klien lansia dapat meningkatkan perasaan produktivitas dan kemampuan beradaptasi yang membantu dalam menghadapi individu sakit kronis 

2. MANAJEMEN STRES UNTUK PERAWAT. 
Sebagian besar perawat mengalami stress dalam lingkungan pekerjaan merka. Stresor dapat terdiri atas kelebihan beban kerja, kebijakan institusi tempat bekerja, konflik dengan rekan kerja atau karakteristik klien (Foxall, Zimmermen, dan Bene, 1990; Skipper, Jung dan Coffey, 1990). Reaksi terhadap stressor yang berkaitan dengan pekerjaan bergantung pada kepribadian perawat, status kesehatan, pengalaman sebelumnya dengan stress dan mekanisme koping. 

STRESS PEKERJAAN 
Seringkali mengakibatkan kondisi yang disebut kepenatan, yang ditandai oleh penuruanan perhatian pada orang dengan siapa kita bekerja. Selama merasa penat klien merasakan kelelahan fisik dan emosional (Melamed, Kushnir dan Shirom, 1992). Pekerjaan atau profesi tidak lagi memberi dampak positif dan klien mungkin mengalami marah dan apatis. 
Perawat dan risiko terhadap stress kepenatan akibat pekerjaan dan dapat memamfaatkan tehnik penatalaksanaan stress yang sama seperti yang mereka ajarkan pada klien. Dalam organisasi dan domain kompetensi peran pekerja, perawat harus mengidentifikasi stressor tertentu di tempat kerja dan berupaya untuk menghilangkan stressor tersebut. Juga membantu untuk mendapat dukungan sosial dari perawat lainnya dengan harapan mempertahankan sikap merawat yang ditujukan pada klien.
 Abdul Haris Awie   

KONSEP CEMAS

KONSEP CEMAS

1.      Pengertian
a.       Cemas adalah perasaan tidak pasti/tidak menentu terhadap malapetaka atau ketakutan yang akan terjadi yang muncul tanpa alasan yang jelas.
b.      Keadaan emosi yang tidak memiliki objek yang spesifik
c.       Kondisi yang dialami secara subjektif & diskomunikasikan dalam hubungan Interpersonal
d.      Merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya.
2.      Tingkatan Cemas
a.       Cemas ringan
Terjadi dari hari ke hari dalam kehidupan. berhubungan dengan ketegangan dalam kekehidupan sehari-hari & menyebabkan seseorang waspada meningkatkan lahan persepsinya. Cemas dapat memotivasi belajar & menghasilkan pertumbuhan & kreativitas
b.      Cemas Sedang
Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting & mengesampingkan yg lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih rendah 
c.        Cemas Berat
Mengurangi lahan persepsi seseorang. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Memerlukan banyak pengarahan.
d.      Panik
Berhubungan dengan kehilangan kontrol, ketakutan & terror, Karena kehilangan kendali orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan walaupun dengan pengarahan, panic memperlihatkan disorganisasi kepribadian. Dgn panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dgn orang lain, persepsi yang menyimpang & kehilangan pemikiran yang rasional.
3.      Karakteristik Cemas
a.       Cemas Ringan
• Agak tidak nyaman
• Gelisah
• Insomnia ringan
• Perubahan nafsu makan ringan
• Peka
• Pengulangan pertanyaan
• Perilaku kewaspadaan
• Peningkatan persepsi & masalah pemecahan masalah.
b.      Cemas Sedang
• Perkembangan dari cemas ringan
• Perhatian terpilih pada lingkungan
• Konsentrasi hanya pada tugas-tugas individu
• Ketidaknyamanan subjektif sedang
• Peningkatan jumlah waktu yang digunakan pada situasi masalah
• Suara bergetar
• Perubahan dalam nada suara
• Tachipnoe
• Tachicardia
• Gemetaran
• Peningkatan ketegangan otot
• Menggigir kuku, memukul-mukul jari,mengetukkan jari kaki, menggoyang
c.       Cemas Berat
• Perasaan terancam
• Ketegangan otot berlebihan
• Diaphoresis
• Perubahan pernafasan :
• Nafas panjang
• Hyperventilasi
• Dispnea
• Pusing
• Perubahan Gastro Intestinal
-         Mual, muntah
-         Rasa terbakab pada ulu hati
-         Sendawa
-         Anoreksia
-         Diare atau konstipasi
• Perubahan Kardio Vaskuler
-         Tachicardia
-         Palpitasi
-         Rasa tdk nyaman pada precordia
-         Ketidakmampuan untuk belajar
• Rasa terisolasi
- Kesulitan atau ketidaktepatan pengungkapan
- Aktivitas yang tidak berguna
- Bermusuhan
d.      Panik
• Hyperaktifitas atau mobilitas berat
• Rasa terisolasi yang ekstrim
• Kehilangan identitas, desintegrasi kepribadian
• Sangat goncang dan otot tegang
• Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan kalimat yang lengkap
• Distorsi, persepsi dan penilaian yang tidak realitas terhadap lingkungan dan ancaman.
• Perilaku kacau dalam usaha melarikan diri
• Menyerang 
4.      Fokus pengkajian pada Klien Cemas
a.       Panik
• Palpitasi jantung
• Mulut kering
• Sulit bernafas
• Nausea
• Perspiration meningkat
• Tremors
• Nadi meningkat
• Tekanan darah meningkat
• Menangis
• Sulit untuk tidur
• Sulit untuk makan
b.      Respon Psychologic
• Ekspresi sedih
• Rasa takut
• Marah
• Tidak percaya terhadap orang lain
• Rasa tidak berdaya
• Tidak punya harapan
• Ketidakmampuan memperhatikan
• Perubahan Sexual
c.       Respon Sosial
• Menarik diri dari interaksi dgn orang lain
• Rasa bermusuhan terhadap orang lain
• Berpakaian tidak sesuai
• Perubahan komunikasi
5.      Rencana Keperawatan & Tujuan
a.       Tujuan
v     Menurunkan tingkat cemas secara verbal dan menggunakan support sistem.
-         Meningkatkan coping efektif melalui keterampilan pemecahan masalah & teknik menurunkan cemas
-         Meningkatkan rasa nyaman 
v     Tindakan
o       Kaji status fisik, status sensory & status kognitif
o       Kaji latarbelakang budaya yang terdiri dari keyakinan tentang perawatan kesehatan pembatasan diet, dan bahasa.
o       Kaji pengalaman masa lalu tentang pelayanan kesehatan
• Kaji perhatian dan stressor
• Kaji jumlah dan support sistem yang tersedia 
• Sediakan informasi mengenai lingkungan sekitar :
·        Seluruh petugas kesehatan baik nama atau pun tugasnya.
·        Rutinitas dan kebijaksanaan
·        Peralatan yang tersedia & cara penggunaannya.
·        Merumuskan bersama tujuan & rencana yang akan dilakukan .
·        Sediakan informasi mengenai prosedur yang akan dilakukan
·        Gunakan bahasa verbal & non verbal sebagai alat komunikasi untuk memahami klien secara empaty
·        Latih klien untuk menggunakan koping yang efektif.
·        Ajarkan klien teknik/managemen menurunkan cemas

Resusitasi Jantung Paru-RJP (Cardio Pulmonary Resuscitation-CPR)

Resusitasi Jantung Paru-RJP (Cardio Pulmonary Resuscitation-CPR)
Bila penderita tidak bernapas dan nadinya teraba tidak berdenyut, mulailah lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau juga dikenal sebagai Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR). CPR adalah kombinasi pemijatan (masase) jantung dari luar dan resusitasi mulut ke mulut. Untuk melakukan hal ini, sebaiknya penolong telah mengikuti pelatihan P3K untuk mengurangi kemungkinan kesalahan dalam melakukan tindakan agar tidak menambah cidera pada penderita.
Jika pasien ternyata tidak menunjukkan adanya denyut dan biji mata melebar dan tampak seperti mati:
  1. Cari bantuan.
  2. Atur Posisi korban.
  3. Tengadahkan kepala pasien ke belakang.
  4. Carilah titik tekanan yang tepat dengan terlebih dahulu menentukan letak titik ujung tulang dada (sternum). Titik tekanan terletak sejauh dua Lebar jari di atasnya.
  5. Letakkan telapak tangan Anda di atas titik tekanan tersebut. Angkat jari Anda menjauhi permukaan dada.
  6. Tekan lurus ke bawah sebanyak 80 hingga 100 kali per menit. Tekan seeara vertikal, siku pada posisi lurus.
  7. Tekan ke bawah ke arah dada sedalam 2 hingga 3 cm untuk orang dewasa.
  8. Ingat bahwa setelah setiap tekanan ke-30, Anda harus meniupkan udara ke dalam paru-paru dua kali secara berurutan.

UNTUK BAYI (baru lahir hingga 1 tahun) DAN ANAK-ANAK (1 hingga 8 tahun)

CPR yang diberikan untuk bayi dan anak kecil adalah serupa dengan CPR untuk orang dewasa. Akan tetapi, terdapat beberapa perbedaan penting yang perlu diingat seperti di bawah ini.

A. Saluran Pernapasan (Airway =A)

Hati-hatilah dalam memengang bayi sehingga Anda tidak mendongakkan kepala bayi dengan berlebihan. Leher bayi masih terlalu lunak sehingga dongakan yang kuat justru bisa menutup saluran pernapasan.

B. Pernapasan (Breathing = B)

Pada bayi yang tidak bernapas, jangan meneoba menjepit hidungnya. Tutupi mulut dan hidungnya dengan mulut Anda lalu hembuskan dengan perlahan (1 hingga 1,5 detik/napas) dengan menggunakan volume yang eukup untuk membuat dadanya mengembang.
Pada anak keeil, jepit hidungnya, tutupi mulutnya, dan berikan hembusan seperti pada bayi.

C. Peredaran Darah (Circulation = C)
Pemeriksaan Denyut
Pada bayi, untuk menentukan ada atau tidaknya denyut nadi adalah dengan meraba bagian dalam dari lengan atas pad a bagian tengah antara siku dan bahu. Pemeriksaan denyut pada anak keeiL sarna dengan orang dewasa.

Tekanan pada Dada
  • Untuk bayi dan anak kecil, gunakanlah hanya satu tangan untuk menekan dada. Pada bayi, salah satu tangan Anda dapat diselipkan di bawah punggung untuk memberikan sanggaan yang kuat.
  • Untuk bayi, gunakan hanya ujung jari telunjuk dan jari tengah untuk menekan dada pada ujung tulang dada atau sternum seperti diuraikan dalam tabel di bawah. Tekanlah sternum antara 1 hingga 2cm paling tidak 100 kali per menit.
  • Untuk anak kecil, gunakan salah satu pangkal telapak tangan (Lihat tabel untuk posisi), dan tekanlah ujung tulang dada antara 2 hingga 3cm, tergantung pada besar kecilnya anak. Berikan tekanannya sebanyak 80 hingga 100 kali per menit.
  • Untuk bayi dan anak kecil, hembusan napas harus diberikan selama jeda waktu setelah melakukan tekanan dada sebanyak 5 kali. Lakukan secara berulang hingga sadar.

Bagian dari tangan
Posisi tangan
Tekanan ke ujung tulang dada (sternum)
Banyaknya tekanan
Bayi
Ujung jari telunjuk dan jari tengah
1 lebar jari di bawah garis antar puting (pastikan tidak menekan ujung tulang dada)
1 hingga 2cm
Paling tidak 100 kali per menit
Anak
Pangkal telapak tangan
Ujung tulang dada (sama dengan orang dewasa)
2 hingga 3 cm
80 hingga 100 kali per menit


Resusitasi Jantung Paru - RJP (Cardio Pulmonary Resuscitation - CPR) untuk anak di atas 8 tahun sama dengan untuk orang dewasa.

kesanggupan kardiovaskuler (tes Havard)

Latar Belakang
Setiap orang membutuhkan kesegaran jasmani dam beraktivitas. Olehnya itu, kita dianjurkan untuk berolah raga pasling kurang dua kali dalam seminggu. Olah raga memiliki sangat bermanfaat untuk kesehatan sistem kardiovaskuler.
Seseorang yang sehat dan fit akan dapat melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa kelelahan yang berarti. Ia masih mempunyai cadangan tenaga yang cukup untuk suatu kegiatan ekstra seperti berolahraga dan rekreasi. Sehat dalam arti umum adalah dengan cara menjaga makanan agar cukup gizi dan menjaga kebersihan sehari-hari. Kebersihan ini meliputi kebersihan diri sendiri, misalnya mandi, berpakaian, dan lain-lain.
Kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari kita membandingkan bagaimana kesanggupan kita melakukan aktivitas dengan orang lain. Misalnya ketika menaiki gedung dengan tangga bersama teman, ada yang merasa sangat lelah dan adapula yang terlihat biasa saja. Hal ini dipengaruhi oleh kebugaran jasmani setiap orang. Orang yang sering berolahraga, tubuhnya akan terbiasa atau beradaptasi sehingga ketika melakukan aktivitas yang berat cadangan kekuatannya lebih banyak dibandingkan dengan yang jarang berolah raga. Selain itu, orang yang rajin berolah raga juga memiliki kerja jantung yang baik dan berujung pada lebih rendahnya tekanan darah dibanding yang jarang berolah raga.
Oleh karena itu dam percobaan ini, kita akan mempelajari bagaimana pengaruh aktivitas terhadap kerja jantung dan perubahan fisiologis para atit sehingga berbeda dengan yang bukan atlit.

1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan kesanggupan badan untuk melakukan suatu kerja atau dengan kata lain : menentukan kapasitas kerja.


TINJAUAN PUSTAKA
Tes Harvard adalah salah satu jenis tes stress jantung untuk mendeteksi atau mendiagnosa penyakit kardiovaskuler. Tes ini juga baik digunakan dalam penilaian kebugaran, dan kemampuan untuk pulih dari kerja berat. Semakin cepat jantung berdaptasi (kembali normal), semakin baik kebugaran tubuh (http://en.wikipedia.org/wiki/Harvard_Step_Test, 2008).
Kelebihan dan kekurangan tes Harvard:
1.      Kelebihan dari Harvard Langkah Tes: 
2.      Peralatannya sederhana
3.      Mudah untuk dilakukan 
4.      Dapat dikelola sendiri 
Kekurangan dari Harvard Langkah Tes: 
1.      Tingkat stres tinggi
2.      Tidak dapat dilakukan untuk anak-anak
3.      Dipengaruhi oleh variasi maksimum detak jantung (HR) (http://www.fitnessvenues.com, 2008)
Tes Harvard merupakan tes ketahanan terhadap kardiovaskuler. Tes ini menghitung kemampuan untuk berolahraga secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa lelah. Subjek (orang yang meelakukan tes) melangkah naik dan turun pada papan setinggi 45 cm. jumlah langkah yaitu 30 langkah permenit dalam 5 menit atau sampai subjek kelelahan. Kelelahan adalah ketikaa saat subjek tidak mampu lagi mempertahankan langkahnya dalam 15 detik. Subjek didudukkan dan merupakan akhir dari tes, dan denyut jantungnya kemudian dihitung dalam 1 sampai 1,5, 2 sampai 2,5, dan 3 sampai 3,5 menit (http://en.wikipedia.org/wiki/Harvard_Step_Test, 2008).
ADAPTASI AKUT KARDIOVASKULER PADA KERJA FISIK
Adaptasi fisiologik terhadap kerja fisik dapat dibagi dalamadaptasi akut dan kronik. Adaptasi akut merupakan penyesuaian tubuh yang terjadi pada saat kerja dilakukan dan adaptasikronik merupakan hasil perubahan pada tubuh oleh suatu periode program latihan fisik. Adanya kerja fisik berarti terdapat suatu pembebanan bagi tubuh dan hal ini akan mengakibatkan teijadinya mekanisme penyesuaian dari alat/organ tubuh bergantung kepada usia, suhu lingkungan, berat ringan beban, lamanya, cara melakukan dan jumlah organ yang terlibat selama kerja fisik tersebut (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
Fungsi utama sistem kardiovaskuler selama kerja fisik adalah menghantar darah ke jaringan yang aktip termasuk oksigen dan nutrien, dan mengangkut produk metabolit dari jaringan tersebut ke alat ekskresi. Untuk melakukan tugas tersebutbeberapa parameter tubuh mengalami perubahan, antara lain : (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008). 
FREKUENSI DENYUT JANTUNG
Frekuensi denyut jantung merupakan parameter sederhanadan mudah diukur dan cukup informatip untuk faal kardiovaskuler. Pada keadaan istirahat frekuensi denyut jantungberkisar antara 60 - 80 per menit. Hal ini mudah dideteksi dengan cara palpasi maupun dengan menggunakan alat seperti pulse meter. cardiac monitoring dan sebagainya; tempat pengukuran dapat di a.radialis, a. carotis dan pada apex jantungsendiri. Frekuensi denyut jantung terendah diperoleh pada keadaan istirahat berbaring. Pada posisi duduk sedikit meningkat dan pada posisi berdiri meningkat lebih tinggi dariposisi duduk. Hal ini disebabkan oleh efek grafitasi yang mengurangi jumlah arus balik vena ke jantung yang selanjutnya
mengurangi jumlah isi sekuncup. Untuk menjaga agar curah jantung tetap maka frekuensi denyut jantung meningkat. Sebelum seseorang melakukan kerja fisik, frekuensi denyut jantung pra kerja meningkat di atas nilai pada keadaan istirahat. Makin baik kondisi seseorang akan diperoleh frekuensi denyut jantung yang lebih rendah untuk beban kerja yang sarna. Pada suatu saat meskipun beban ditambah tetapi frekuensi denyut jantung tetap. Frekuensi denyut jantung pada keadaan tersebut disebut frekuensi maksimal. Tiap orang mempunyai frekuensi maksimal denyut jantung yang tampaknya mempunyai hubungan erat dengan faktor usia. (Frekuensi maksimal denyut jantung =220 - usia dengan standar deviasi ± 10 denyut)
(www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
CURAH JANTUNG/CARDIAC OUTPUT (CO)
Curah jantung adalah volume darah yang dipompa oleh jantung, khususnya oleh ventrikel selama satu menit. Satuannya dalam dm3 min-1 (1 dm3 sebanding dengan 1000 cm3 atau 1 liter). (http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Cardiac_output&action, 2008)
Variasi produksi curah jantung dapat disebabkan oleh perubahan dari denyut jantung dan volume sekuncup. Denyut jantung terutama dikontrol oleh persarafan jantung, rangsangan simpatis meningkatkan denyut jantung dan perangsangan parasimpatis menurunkannya. Volume sekuncup juga tetap pada bagian yang dipersarafi, perangsangan simpatis membuat serabut otot jantung berkontraksi dengan kuat ketika diberikan perangsangan yang lama dan parasimpatis akan member rangsangan balik (bertolak belakang). Ketika kekuatan kontraksi naik tanpa peningkatan serabut yang lama, maka darah banyak yang tertinggal di dalam ventrikel, dan peningkatan fase ejeksi dan akhir dari fase sistol yaitu volume darah dalam ventrikel berkurang (Ganong, 2001).
Total volume darah dalam sistem peredaran darah dari rata-rata orang adalah sekitar 5 liter (5000 mL). According to our calculations, the entire volume of blood within the circulatory sytem is pumped by the heart each minute (at rest). Menurut perhitungan, seluruh volume darah dalam system peredaran darah akan dipompa oleh jantung setiap menit (di istirahat). During vigorous exercise, the cardiac output can increase up to 7 fold (35 liters/minute)Latihan (aktivitas fisik) dapat meningkatkan output jantung hingga 7 kali lipat (35 liter / menit)
(http://www.biosbcc.net/doohan/sample/index.htm, 2008)


VOLUME SEKUNCUP (STROKE VOLUME)
Volume sekuncup adalah jumlah darah yang dipompa setiap kontraksi dari ventrikel kiri dan diukur dalam ml/kontraksi. Volume sekuncup meningkat sebanding dengan aktivitas fisik. Pada keadaan normal (tidak dalam aktivitas lebih) setiap orang memilki volume sekuncup rata-rata 50-70ml/kontraksi dan dapat meningkat menjadi 110-130ml/kontraksi scara intensif, ketika melakukanaktivitas fisik. Pada atlet dalam keadaan istirahat memiliki stroke volume rata-rata 90-110 ml/ kontraksi dan meningkat setara dengan 150-220ml/kontraksi (http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008)

ARUS DARAH
Sistem pembuluh darah bisa membawa darah kembali ke jaringan yang membutuhkan dengan cepat dan berjalan pada daerah yang hanya membutuhkan oksigen. Pada keadaan istirahat 15-20% uplai darah di sirkulasi pada otot skelet. Selama melakukan aktivitas fisik, ini bisa meningkat menjadi 80-85% dari curah jantung. Darah akan dialirkan dari organ besar seperti ginjal, hati, perut, dan usus. Ini akan meneruskan aliran ke kulit untuk memproduksi panas
(http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008).
Arus darah dari jantung ke jaringan tubuh bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing jaringan baik dalam keadaanistirahat maupun pada kerja fisik. Jumlah absolut darah yang ke otak selalu tetap/konstan, ke otot dan jantung jumlah darah akan meningkat sesuai dengan bertambahnya beban kerja sedangkan yang ke ginjal, lambung dan usus akan berkurang pada beban kerja yang meningkat. Peningkatan arus darah ke otot yang aktif merupakan kerja persarafan vasodilator dan peningkatan metabolisme yang menimbulkan penurunan pH atau peningkatan derajat keasaman dan pada tingkat lokal akan terlihat lebih banyak kapiler dan arteriol yang membuka. Faktor lain yang berperan dalam pengaturan arus darah adalah siklus jantung. Telah diketahui bahwa dengan bertambahnya beban kerja, akan terjadi peningkatan frekuensi denyut jantung dan hal ini mengakibatkan lebih singkatnya waktu yang digunakan
untuk satu siklus jantung termasuk fase diastole. Sedangkan pengisian pembuluh darah koroner yang terbanyak adalah padafase diastole. Dengan berkurangnya fase diastole maka arus darah koroner juga akan berkurang (www.portalkalbe/files/cdk/files/04_UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
TEKANAN DARAH
Dalam keadaan istirahat,, sistole tipikal individu (normal) adalah 110-140 mmHg dan 60-90 mmHg untuk tekanan darah diastol. Selama aktivitas fisik tekanan sistol, tekanan selama kontraksi jantung (disebut sistol) bisa meningkat sampai 200 mmHg dan maksimum pada 250 mmHg yang bisa terjadi pada atlet. Tekanan diastolrelaif tidak berubah secara signifikan ketika melakukan latihan intensif. Faktanya kenaikannya lebih dari 15 mmHg sehingga latihan intensif bisa mengidentifikasi penyakit jantung koroner dan digunakan sebagai penilaian untuk tes toleransi latihan (http://www.sport-fitness-advisor.com, 2008)
Tekanan darah selama kerja fisik memperlihatkan hubungan antara keseimbangan peningkatan curah jantung dan penurunan tahanan perifer dengan adanya vasodilatasi pada pembuluh darah otot yang bekerja. Terlihat bahwa tekanan sistolik akan meningkat secara progresiv sedangkan pada tekanan diastolik tetap atau sedikit menurun
(www.portalkalbe/files/cdk/files/04UjiKerjaFisik.pdf, 2008).
Berbagai penelitian sekarang ini telah menunjukkan bahwa orang yang mempertahankan kebugaran tubuh yang sesuai, menggunakan beragam latihan secara bijaksana dan melakukan pengaturan berat badan, memilkiki keuntungan tambahan, yaitu hidup lebih panjang. Khususnya antara usia 50-70 tahun, penelitian telah membuktikan bahwa kematian menjadi berkurang tiga kali lipat pada orang yang bugar daripada orang yang tidak bugar (Guyton, 2007).
Kebugaran dapat memperpanjang kehidupan karena dua alasan.
Pertama, kebugaran tubuh dan pengaturan berat badan sangat mengurangi penyakit kardiovaskuler. Hal ini disebabkan oleh (1) pengaturan tekanan darah yang cukup rendah dan (2) pengurangan kolesterol darah dan lipoprotein densitas rendah bersamaan dengan peningkatan lipoprotein densitas tinggi. Perubahan-perubahan ini semua bekerja sama mengurangi jumlah serangan jantung dan stroke otak (Guyton, 2007).
Kedua, dan mingkin yang sama pentingnya orang sehat secara atletik memiliki cadangan kebugaran jasmani yang lebih banyak bila ia sedang sakit. Sebagai contoh, orang yang berusia 80 tahun, yang tidak bugar mengkin memilki system pernapasan yang membatasi pengantaran oksigen ke jaringan tubuh tidak lebih dari 1L/menit. Hal ini berarti bahwa cadangan pernapasan tidak lebih dari tiga sampai empat kali lipat. Namun, seorang yang berusia tua yang secara atletik bugar mungkin memiliki cadangan dua kali lipat. Keadaan ini khususnya penting dalam mempertahankan kehidupan bila orang yang tua tersebut menderita penyakit seperti pneumonia yang dapat dengan cepat memakai semua cadangan pernapasan yang ada. Selain itu, kemampuan untuk meningkatkan curah jantung pada waktu dibutuhkan sering lebih dari 50 persen pada orang tua yang bugar daripada yang tidak bugar (Guyton, 2007).

METODOLOGI PERCOBAAN
1 Alat
Alat yang dibutuhkan dalam percobaan ini yaitu :
1.      Bangku Harvard
2.      Metronom
3.      Stopwatch
4.      Sphygnomanometer
2 Cara Kerja

Sebelum percobaan dimulai aturlah metronome dengan kecepatan 30 kali permenit yaitu sesuai dengan kecepatan naik-turun banku yang akan dilakukan. Ukurlah tekanan darah dan kecepatan denyut nadi orang coba dalam keadaan istirahat (duduk). Bila tekanan darah melebihi 160 mmHg (sistole) sebaiknya percobaan ini jangan dilakukan pada orang tersebut. Sekarang mintalah orang coba untuk melakukan kerja naik-turun bangku Harvard dengan kecepatan yang tepat 30 kai naik turun satu menit yang sesuai dengan bunyi metronome. Kerja ini dilakukan sesanggup mungkin tetapi tidak lebih dari 5 menit. Setelah selesai dengan kerja ini orang segera diminta duduk dan ukurlah tekanan darah dan denyut nadi orang coba. Kemudian lakukan pencatatan denyut nadi pada 1 menit, 2 menit, dan 3 menit setelah percobaan (denyut nadi dihitung selama 30 detik).
Pencatatan denyut nadi dinyatakan sebagai berikut :
F1 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 1 ment sampai 1 menit 30 detik kemudian.
F2 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 2 menit sampai 2 menit 30 detik kemudian.
F3 = denyut nadi/30 detik yang dihitung 3 menit sampai 3 menit 30 detik kemudian.
Rumus Indeks Kesanggupan Badan (ISK):
CARA CEPAT
IKB=(T x 100)/(5,5 F1)
CARA LAMBAT
IKB= (T X 100)/(2(F1+F2+F3) )

T = lamanya orang coba naik turun (dalam detik).
PENILAIAN :
Lakukan percobaan ini pada setiap anggota kelompok!

CARA CEPAT : <50 : kesanggupan kurang
50-80 : kesanggupan sedang
>80 : kesanggupan baik
CARA LAMBAT : <50 : kesanggupan kurang
55-64 : kesanggupan sedang

HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil
Nama orang coba : Rahman
Umur : 19 Tahun
Nama Pemeriksa :
a. Pengukur Tekanan Darah : K’ Fatma
b. Penghitung Denyut nadi : Waode Nurmila
c. Pengukur Waktu : Andi Buana Sari dan Selviana Anwar
Lama naik-turun bangku Harvard : 2 menit 48 detik : 168 detik
- Sebelum beraktivitas :
a. Tekanan Darah : 120 / 80 mmHg
b. Denyut Nadi : 80 Kali / menit
- Setelah Beraktivitas :
a. Tekanan Darah : 140 / 80 mmHg
b. Denyut Nadi : F1 = 100 kali / menit
F2 = 92 kali / menit
F3 = 88 kali / menit

IKB= (T X 100)/(2(F1+F2+F3) )
= (168 x 100)/(2 (100+92+88))
= 16800/560
= 30 (kesanggupan kurang)

IV.2 Pembahasan
Dalam percobaan ini orang coba diminta untuk melakukan aktivitas fisik yaitu dengan naik turun bangku Harvard yang bertujuan untuk melihat perbedaan tekanan darah dan denyut nadi atau perubahan sistem kardiovaskuler sebelum dan setelah beraktivitas. Percobaan ini dimulai dengan mengukur tekanan dan denyut nadi orang coba. Hasil pengukurannya yaitu tekanan darah 120/80 mmHg dan denyut nadi 80 kali per menit. Pengukuran tekanan darah perlu dilakukan karena orang yang bertekanan darah tinggi tidak dapat melakukan percobaan ini karena seseorang yang mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi, aktivitas jantungnya sudah cukup tinggi dari orang normal yang selanjutnya pembuluh darah untuk mengalirkan darah akan mengalami vasokontriksi dan mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi. Jika percobaan ini dilakukan, maka tekanan darah pada orang yang hipertensi akan lebih meningkat lagi walaupun peningkatannya tidak signifikan. Akan tetapi, hal ini akan beresiko yaitu pecahnya pembuluh darah bahkan gagal jantung
Setelah orang coba melakukan naik turun bangku Harvard selama 168 detik, maka tekanan darah dan denyut nadi diukur kembali. Tekanan darah orang coba setelah aktivitas yaitu 140/80 mmHg dan denyut nadi stelah 1 menit (F1)=100 kali permenit, setelah 2 menit (F2)=92 kali permenit, dan setelah 3 menit (F3)=88 kali permenit. Kemudian dilakukan penghitungan IKB dari orang coba dan berdasarkan hasil IKB orang coba adalah 30 atau kesanggupan tubuh kurang. Hal ini belum tentu menunjukkan bahwa kesanggupan orang coba kurang karena mungkin terdapat beberapa faktor misalnya beban kerja yang diberikan tidak terlalu berat, frekuensi naik turun Harvard kurang maksimum, atau standar yang dipakai pada rumus ini merupakan standar dari luar negeri dimana orang barat dominan memiliki kapasitas kerja lebih dibandingkan kita orang Indonesia, misalnya karena faktor pemenuhan gizi atau perbedaan pola hidup dalam pekerjaan sehari-hari.
Pada orang coba dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan tekanan darah (dastole) dan denyut nadi. Hal ini disebakan karena kardiak output jantungkarena kativitas yang meningkat, organ tubuh lain juga akan memerlukan supalai O2 dan nutrisi yang di dapatkan dari jantung. Oleh karena itu, kardiak output juga perlu ditingkatkan agar kebutuhan tersebut terpenuhi. Karena peningkatan kardiak output inilah dimana darah akan lebih banyak dipompa melalui aorta sehingga berpengaruh dalam peningkatan tekanan darah dimana peningkatan ini mengakibatkan gelombang tekanan yang berjalan di sepanjang arteri semakin cepat dan selanjutnya akan mengakibatkan denyut nadi meningkat. 
Dalam pengaliran darah ke seluruh tubuh ketika beraktivitas, ptmbuluh darah disekitar otot akan mengalami vasodilatasi (lebih besar) agar darah lebih banyak dialirkan. Vasodilatasi ini akan berlanjut pada penurunan tahanan perifer. Hal ini dapat diandaikan dengan dua buah pipa yaitu pipa kecil dan pipa besar. Tentunya pipa kecil akan memilki tahanan yang lebih besar dibandingkan dengan pipa besar. Selain itu, tekanan pada pipa besar lebih rendah dibandingkan pipa kecil demikian halnya dengan pembuluh darah.
Selain itu peningkatan kardiak output juga dipengaruhi oleh peningkatan aliran balik vena akibat dari meningkatnya tonus otot karena pergerakan fisik dan penurunan tekanan intratorak. Penurunan tekanan intratorak merupakan akibat dari reaksi tubuh yaitu inspirasi yang dalam pemenuhan kebutuhan O2 untuk menghasilkan energi. Udara mengalir dari atmosfir ke paru-paru juga karena tekanan di atmosfir lebih tinggi dibandingkan tekanan intratorak. Karenan penurunan tekanan ini maka tekanan pada vena pada bagian ekstremitas bawah akan lebih tinggi sehingga akan meningkatkan aliran darah ke jantung.
Peningkatan kardiak output juga dipengaruhi oleh saraf otonom yang akan merangsang saraf simpatis sehingga denyut nadi meningkat. Perlu diketahui bahwa perangsangan saraf simpatis akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah pada bagian tubuh yang lain kecuali pada pembuluh di disekitar otot yang telah diuraikan sebelumnya.
Berhubungan dengan kardiak output, dapat dijelasan pula bahwa seorang atlit dan orang biasa memilki kardiak output yang sama. Akan tetapi, yang membedakan adalah pada kualitas volume sekuncup (jumlah darah yang dikeluarkan jantung setiap kontraksi). Setiap kali jantung berkontraksi akan menghasilkan darah yang lebih banyak dibandingkan orang biasa. Sehingga untuk menghasilkan kardiak output yang sama dengan atlit, jantung orang biasa akan lebih banyak berkontraksi. Seperti yang kita ketahui kardiak output didapatkan dari pengalian denyut jantung dengan volume sekuncup. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kontraksi jantung pada atlit lebih sedikit tetapi karena volume sekuncup lebih banyak sehingga bisa menyamai kardiak output dari orang biasa yang jantungnya lebih banyak berkontraksi, tetapi volume sekuncupnya lebih sedikit. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tekanan darah atlit lebih rendah dibanding yang biasanya (kontraksi jantung lebih sedikit).
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan ini kesimpulan yang dapat ditarik adalah :
Kapasitas kerja adalah Kesanggupan sesorang untuk melakukan kerja dengan seefesien mungkin hingga batas kemampuan kerja.
Dalam percobaan ini indeks kesanggupan badan orang coba setelah dilakukan perhitungan yaitu 30 atau kesanggupan badan kurang.
Suatu aktivitas dapat mengakibatkan peningkatan cardiak output (CO) karena peningkatan diastole sebagai akibat dari peningkatan tonus otot dan tekanan intratorak yang menurun. Selain itu, karena adanya rangsangan otonom yang meningkatkan kerja saraf simpatis sehingga denyut jantung juga meningkat.